- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
NU Mendesak Jokowi untuk Membangun Kembali Properti di Jayapura dan Wamena
Ketua Nahdlatul Ulama (NU) -Jayapura Bab KH Kahar Yelipele telah meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membangun kembali rumah-rumah dan kios-kios yang para perusuh membakar dan dirusak selama kekerasan di Jayapura dan Wamena baru-baru ini.
"Setelah peresmian Bpk. Joko Widodo (Jokowi) dan Bpk. Ma'ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia untuk masa jabatan 2019-2024 pada hari Minggu, kami berharap rumah-rumah dan toko-toko yang hancur di Jayapura dan Wamena dibangun kembali," dia berkata.
Selain membangun kembali properti, pemerintah telah diminta untuk melanjutkan proyek infrastrukturnya untuk meningkatkan wilayah luar dan pengembangan ekonomi penduduk setempat, kata Yelipele ketika berbicara di Jayapura, ibukota Provinsi Papua, Senin.
Pemerintah juga telah didesak untuk membangun pusat pelatihan untuk membantu penduduk setempat meningkatkan keterampilan dan kreativitas orang-orang mereka untuk menikmati manfaat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan mereka, kata Yelipele yang juga anggota Forum Kerukunan Umat Beragama Jayapura (FKUB).
Untuk menjaga perdamaian dan kohesi sosial di Papua, ia meminta masyarakat setempat dan para pemimpin agama untuk mendidik masyarakat agar mereka tidak terpancing oleh berita palsu dan informasi yang salah.
"Mari kita menyebarkan pesan perdamaian, toleransi dan persatuan dalam keberagaman sebagai putra dan putri bangsa kita," katanya.
Menanggapi seruan untuk berjihad di Papua setelah kerusuhan Wamena baru-baru ini yang merenggut nyawa 33 warga sipil tak berdosa, Yelipele terus terang menolaknya.
Dia mengatakan kepada mereka yang tertarik pada jihad untuk menghentikan rencana mereka karena itu hanya akan menciptakan masalah baru.
Pemerintah kabupaten dan provinsi telah menangani kasus Wamena, katanya. Selain itu, personel keamanan juga telah memulihkan hukum dan ketertiban dan bertindak terhadap mereka yang bertanggung jawab atas kerusuhan mematikan.
Yelipele mengimbau warga di dalam Papua dan di luar provinsi paling timur Indonesia ini untuk menahan diri dan mengizinkan lembaga penegak hukum untuk menyelesaikan kasus tersebut.
Dia menyatakan belasungkawa terdalam atas individu dan keluarga yang sangat menderita kerusuhan mematikan yang meletus di kota dataran tinggi Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua, pada 23 September 2019.
Seruan bagi jihadis untuk berperang di Papua baru-baru ini didengungkan oleh Front Jihad Islam (FJI). Organisasi ini mulai mendaftarkan Muslim Indonesia yang ingin melakukan jihad di sana.
Kerusuhan Wamena telah menyebabkan kesengsaraan bagi banyak orang Indonesia karena tidak hanya 33 warga sipil tak berdosa terbunuh, tetapi beberapa ribu orang yang selamat terpaksa meninggalkan harta benda mereka yang terbakar dan menghancurkan serta mencari perlindungan di tempat lain.
Beberapa orang yang selamat, berasal dari provinsi, termasuk Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Banten, juga telah kembali ke kota asal mereka.
Kerusuhan itu dipicu oleh proliferasi tipuan melalui platform media sosial yang memicu kemarahan di antara penduduknya, menurut Kepala Inspektur Jenderal Polisi Papua Rudolf A. Rodja.
Beberapa laporan media lokal mengkonfirmasi klaim Rodja bahwa kerusuhan itu dipicu oleh tipuan yang berpusat pada cercaan rasis guru terhadap siswa asli Papua.
Dengan mempertimbangkan jumlah korban, kerusuhan Wamena telah menjadi ledakan kekerasan paling mematikan di beberapa bagian Papua dan Papua Barat selama dua bulan terakhir setelah insiden Surabaya pada 16 Agustus yang telah memicu kebencian dan kemarahan di antara penduduk asli Papua.
Polisi Indonesia telah menahan Benny Wenda, seorang juru kampanye Gerakan Papua Merdeka (OPM) yang menjalani kehidupan yang baik di Inggris, bertanggung jawab atas serentetan kekerasan yang meletus di kedua provinsi di Indonesia ini, termasuk kerusuhan di Wamena.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar